JABARINSIDE.COM – Pemerintah Desa (Pemdes) Bojongraharja, Kecamatan Cikembar, menggelar Musyawarah Desa Khusus (Musdesus) terkait program ketahanan pangan yang dikelola Bum Desa Bojongraharja Mandiri dalam mendukung swasembada pangan tahun anggaran 2025.
Kegiatan berlangsung di aula Balai Desa Bojongraharja pada Kamis (14/12/25), dengan melibatkan Forkopimcam Cikembar, BPD, perangkat desa, kelompok tani, tokoh masyarakat, serta pengurus BUMDes. Forum ini menjadi ruang resmi untuk membahas dan menyepakati program ketahanan pangan desa di tahun mendatang.
Ketua BUMDes Bojongraharja Mandiri, Iman Sukiman, menyampaikan bahwa Musdesus 2025 berjalan positif dengan banyak masukan dari masyarakat.
“Alhamdulillah cukup positif. Kami mendapatkan banyak masukan dari masyarakat, dan ini menjadi motivasi agar kami lebih semangat membangun unit usaha ini,” ujarnya.
Menurut Iman, serapan anggaran program ketahanan pangan tahun ini mencapai hampir 100 persen. Dari total anggaran sekitar Rp304,6 juta, semua telah dialokasikan sesuai rencana kerja.
“Total biaya yang digunakan sekitar Rp334 juta, sebenarnya masih kurang. Namun kami tetap membuka peluang bila ada investor yang ingin bekerja sama,” tambahnya.
Untuk tahap awal, pasar produk—khususnya telur ayam—akan difokuskan di lingkungan Desa Bojongraharja, sebelum diarahkan ke minimarket atau supermarket di wilayah setempat.
Iman juga optimis usaha peternakan ayam petelur ini masuk kategori komoditas produktif. “Titik impas bisa dicapai dalam 1–2 tahun. Secara hasil juga relatif stabil. Kami optimis bisa terus profit,” tegasnya.
Kepala Desa Bojongraharja, Henhen Suhendar, menegaskan bahwa program ketahanan pangan yang dirancang BUMDes telah melalui proses analisa yang matang.
“Alhamdulillah masyarakat merespon baik. Dari paparan pengurus dan hasil analisa usaha, program ini cukup layak dilaksanakan,” jelas Henhen.
Ia juga menyebutkan bahwa dukungan lahan untuk usaha peternakan berasal dari lahan pribadi sehingga tidak memerlukan biaya sewa. Pemdes turut membantu dalam penataan lahan menggunakan alat berat.
“BUMDes sudah bekerja operatif sejak awal, mulai dari persiapan lahan, analisa usaha, hingga penentuan vendor pembangunan. Kita juga melihat kebutuhan telur masyarakat cukup tinggi, sehingga peluang pasar sangat besar,” tambahnya.
Henhen optimis usaha ayam petelur memiliki risiko yang relatif kecil, terutama untuk ayam yang sudah memasuki masa produksi.
“Harapannya, kepercayaan yang diberikan kepada BUMDes dapat dijaga dengan baik sehingga program ini menghasilkan manfaat nyata bagi masyarakat,” tutupnya.















