‎Disoroti Tajam! Proyek Lapang Sekarwangi Rp5,9 Miliar Dipertanyakan, Aktivis Kaitkan dengan Kebijakan Moratorium Jabar‎

Kamis, 9 April 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

JABARINSIDE.COM | SUKABUMI — Rencana pembangunan lapang di wilayah Sekarwangi, Kecamatan Cibadak, Kabupaten Sukabumi, dengan nilai anggaran mencapai sekitar Rp5,9 miliar terus menuai sorotan publik. Proyek yang tercatat dalam sistem pengadaan pemerintah melalui Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (LKPP) ini dinilai tidak mencerminkan prioritas kebutuhan masyarakat yang lebih mendesak.

‎Berdasarkan data yang dihimpun, proyek tersebut bersumber dari APBD Kabupaten Sukabumi tahun anggaran 2026, masuk dalam kategori pekerjaan konstruksi dengan metode tender. Pelaksanaan dijadwalkan berlangsung mulai Juli hingga November 2026.
‎Gelombang kritik muncul dari masyarakat yang menilai Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Perkim) tidak peka terhadap kondisi riil di lapangan. Warga menilai, di tengah banyaknya rumah terdampak bencana yang belum tertangani serta kondisi infrastruktur jalan desa yang rusak, pembangunan lapang dinilai bukanlah kebutuhan prioritas.

‎Dalam surat terbuka kepada DPRD Kabupaten Sukabumi, masyarakat mendesak adanya evaluasi menyeluruh terhadap proyek tersebut. Mereka menilai kebijakan ini berpotensi menjadi contoh buruk dalam penentuan arah pembangunan daerah.

‎“Masih banyak warga terdampak bencana yang belum mendapatkan perhatian serius. Jalan-jalan desa pun rusak. Ini yang seharusnya didahulukan, bukan pembangunan yang tidak mendesak,” demikian isi aspirasi warga.
‎Sorotan kian menguat setelah dikaitkan dengan kebijakan Pemerintah Provinsi Jawa Barat terkait moratorium pembangunan.

‎Melalui Surat Edaran Gubernur Jawa Barat Nomor 180/2025, diberlakukan penghentian sementara izin pembangunan perumahan di kawasan rawan bencana, rawa, lahan sawah, hingga bantaran sungai. Kebijakan tersebut bertujuan menekan risiko banjir dan kerusakan lingkungan, dengan pendekatan selektif berbasis kajian akademik dari Institut Pertanian Bogor dan Institut Teknologi Bandung, serta mendorong konsep hunian vertikal.
‎Menanggapi hal tersebut, Ketua LSM Latas (Lembaga Analisa dan Transparansi Anggaran Sukabumi), Fery Permana, menilai bahwa pemerintah daerah seharusnya selaras dengan arah kebijakan provinsi, terutama dalam aspek kehati-hatian pembangunan berbasis risiko lingkungan.

‎“Kalau provinsi sudah mengingatkan soal risiko tata ruang dan bencana, seharusnya daerah lebih berhati-hati dalam merencanakan pembangunan. Jangan sampai kebijakan daerah justru kontraproduktif dengan upaya mitigasi bencana,” tegas Fery.
‎Ia juga mengkritik keras alokasi anggaran miliaran rupiah untuk proyek yang dinilai tidak memiliki urgensi tinggi di tengah kondisi masyarakat yang masih membutuhkan pemulihan pascabencana.

‎“Ini bukan hanya soal pembangunan lapang, tapi soal arah kebijakan anggaran. Ketika kebutuhan dasar masyarakat belum terpenuhi, lalu muncul proyek seperti ini, publik berhak mempertanyakan. DPRD harus turun tangan dan tidak boleh diam,” tambahnya.

‎Menurutnya, jika tidak ada evaluasi, proyek tersebut berpotensi menjadi simbol ketimpangan prioritas pembangunan serta lemahnya pengawasan terhadap penggunaan anggaran publik.

‎Atas dasar itu, masyarakat bersama elemen aktivis mendesak DPRD Kabupaten Sukabumi, khususnya Komisi II, untuk segera melakukan evaluasi menyeluruh, baik dari aspek perencanaan, urgensi, hingga dampak sosial dan lingkungan.

‎Surat tersebut juga ditembuskan kepada Bupati Sukabumi, Wakil Bupati, Sekretaris Daerah, Kepala DPPKAD, Kepala Dinas Perkim, serta media sebagai bentuk dorongan transparansi.
‎Kritik ini menjadi penegas bahwa pembangunan bukan sekadar soal realisasi anggaran, tetapi soal keberpihakan. Di tengah ancaman bencana dan ketimpangan infrastruktur, publik berharap pemerintah mampu menyusun kebijakan yang lebih rasional, berkeadilan, dan berpihak pada kebutuhan riil masyarakat.

‎Tim Red

Baca Juga :  Keluarga Korban Kecelakaan Beruntun Gerbang Tol Ciawi, Ucapkan Terimakasih Kepada Polri

Berita Terkait

Bupati Asep Japar Ungkap Tiga Jembatan Presisi Dibangun Bersamaan di Sukabumi, Salah Satunya di Cibadak
Polres Sukabumi Ungkap Peredaran 41.479 Butir Obat Berbahaya dan 3.641 Botol Miras
Camat Cikembar Apresiasi Mini Cafe EDAfresh, Dorong Jadi Barometer BUMDes Inovatif di Sukabumi
Warga RW 05 Desa Gekbrong Matangkan Persiapan HUT RI ke-81, Sejumlah Kegiatan Meriah Disiapkan
Relawan Sekber TPPO RI Bantu Pulangkan PMI Asal Sukabumi dari UEA, Empat Patmawati Disambut Isak Tangis Keluarga
Kontrakan di Cimahi Sukabumi Diduga Jadi Gudang Miras, 4.000 Botol Lebih Diamankan
KUA Cikembar Gelar GEBER MAS, Gerakan Bersih-Bersih Masjid Sambut HUT RI ke-81
Kecelakaan Cikembar, Pengendara Motor Tewas di Depan TPA Cimenteng
Berita ini 37 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 13 Agustus 2026 - 11:53 WIB

Bupati Asep Japar Ungkap Tiga Jembatan Presisi Dibangun Bersamaan di Sukabumi, Salah Satunya di Cibadak

Rabu, 12 Agustus 2026 - 17:06 WIB

Polres Sukabumi Ungkap Peredaran 41.479 Butir Obat Berbahaya dan 3.641 Botol Miras

Rabu, 12 Agustus 2026 - 09:55 WIB

Warga RW 05 Desa Gekbrong Matangkan Persiapan HUT RI ke-81, Sejumlah Kegiatan Meriah Disiapkan

Rabu, 12 Agustus 2026 - 09:34 WIB

Relawan Sekber TPPO RI Bantu Pulangkan PMI Asal Sukabumi dari UEA, Empat Patmawati Disambut Isak Tangis Keluarga

Selasa, 11 Agustus 2026 - 21:34 WIB

Kontrakan di Cimahi Sukabumi Diduga Jadi Gudang Miras, 4.000 Botol Lebih Diamankan

Selasa, 11 Agustus 2026 - 18:41 WIB

KUA Cikembar Gelar GEBER MAS, Gerakan Bersih-Bersih Masjid Sambut HUT RI ke-81

Minggu, 9 Agustus 2026 - 17:13 WIB

Kecelakaan Cikembar, Pengendara Motor Tewas di Depan TPA Cimenteng

Sabtu, 8 Agustus 2026 - 12:59 WIB

Tiang Listrik Miring di Jalan Perintis Kemerdekaan Cibadak Mengkhawatirkan, Warga Minta Segera Diperbaiki

Berita Terbaru