JABARINSIDE.COM | Sukabumi — Proyek pembangunan Jalan Tol Bogor–Ciawi–Sukabumi (Bocimi) kembali menuai sorotan, kali ini dari para petani di wilayah Kamandoran Karang Tengah, Kecamatan Cibadak, Kabupaten Sukabumi. Mereka mengeluhkan dampak yang timbul akibat aktivitas proyek yang menyebabkan terganggunya saluran irigasi serta rusaknya lahan pertanian.
Diketahui, sebagian besar lahan pertanian di dua wilayah Rukun Warga (RW 09 dan RW 10) di Desa Karang Tengah kini mengalami kesulitan air. Pasalnya, aliran irigasi yang bersumber dari Bendungan Lewibangka terputus akibat pengerjaan proyek tol yang melintasi daerah tersebut.
Menurut keterangan warga setempat, saluran air utama mengalami penyumbatan setelah dibongkar dan diganti dengan pipa berukuran kecil oleh pihak pelaksana proyek. Akibatnya, air tidak sampai ke lahan pertanian dan justru meluap ke jalan serta area sekitar proyek.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Air dari bendungan sebenarnya sudah dibuka, tapi di sini malah tersendat. Pipa yang dipasang terlalu kecil, jadi air tumpah ke jalan dan tidak sampai ke sawah kami,” ujar Owen, salah satu perwakilan petani Karang Tengah, Jumat (10/10/2025).
Lebih lanjut, Owen menyebutkan bahwa kondisi ini sudah berlangsung lebih dari satu tahun tiga bulan. Selama periode tersebut, para petani tidak bisa menanam padi maupun palawija karena lahan mereka mengering dan rusak.
“Kami tidak bisa menanam sama sekali. Lahan kami sekitar 45 hektare tidak terairi. Kami mohon kepada pemerintah, terutama Bapak Presiden Republik Indonesia, Bapak Prabowo Subianto, untuk membantu memperbaiki saluran air dan memberikan bantuan modal agar petani bisa kembali berproduksi,” tambahnya.
Selain berdampak pada sektor pertanian, pembangunan tol juga menyebabkan kerusakan jalan lokal akibat lalu lintas alat berat dan material proyek. Sejumlah akses warga, seperti jalan menuju Kampung Legok Pijung dan Cireundeu, menjadi sulit dilalui karena berlumpur dan licin saat hujan.
Warga berharap agar pihak pelaksana proyek segera menindaklanjuti keluhan tersebut dengan melakukan perbaikan irigasi dan penataan ulang saluran air. Mereka juga meminta agar komunikasi antara pengurus pengairan dan pihak proyek ditingkatkan agar persoalan serupa tidak terulang.
“Dari dulu sudah dikasih tahu kalau saluran air ini vital untuk petani. Kami hanya ingin air bisa mengalir lagi ke sawah, supaya bisa tanam padi seperti biasa,” ujar salah seorang warga lainnya.
Sementara itu, berdasarkan pantauan di lapangan, proyek Tol Bocimi Seksi 3 (Cibadak–Sukabumi Barat) memang masih dalam tahap penyelesaian. Jalur ini diharapkan menjadi penghubung utama wilayah Sukabumi bagian barat dengan Bogor dan kawasan industri di sekitarnya.
Namun, hingga kini, sejumlah keluhan warga terkait dampak sosial dan lingkungan masih belum sepenuhnya terselesaikan. Pemerintah daerah bersama pihak kontraktor diharapkan segera melakukan langkah konkret agar manfaat pembangunan tol ini bisa dirasakan secara menyeluruh tanpa mengorbankan masyarakat sekitar.















