JABARINSIDE.COM | Sukabumi — Suasana musyawarah antara warga, petani, dan pihak PT Bogorindo Cemerlang di Aula Desa Tenjo Jaya, Kecamatan Cibadak, Kabupaten Sukabumi, pada Senin (27/10/2025), berlangsung tegang. Pertemuan yang difasilitasi oleh pemerintah desa tersebut membahas tuntutan warga terkait aktivitas perusahaan di atas lahan yang status kepemilikannya masih dipersoalkan.
Musyawarah dipimpin oleh Renal Aditya Rahman dengan notulen Lucky Saiful Agusta, dan dihadiri tokoh masyarakat, perwakilan petani, serta empat orang dari pihak PT Bogorindo serta kepala Desa. Dalam forum itu, warga mendesak perusahaan untuk menarik seluruh alat berat dan menghentikan kegiatan di Desa Tenjo Jaya sampai memiliki legalitas kepemilikan lahan dan izin resmi dari dinas terkait.

Renal menegaskan, tuntutan ini merupakan lanjutan dari hasil musyawarah sebelumnya pada 20 Oktober 2025, di mana masyarakat bersama BPBD Desa Tenjo Jaya sudah sepakat bahwa PT Bogorindo tidak diperkenankan beroperasi sebelum mengantongi izin resmi dan menyelesaikan ganti rugi kepada petani yang terdampak.

“Kami hanya menuntut kepastian. Karena musim panen sudah dekat, warga tidak ingin lahan mereka kembali dirusak. Kami ingin perusahaan menunjukkan bukti kepemilikan yang sah dan imbasnya kita juga dari pihak Desa,” ujar Renal dalam forum tersebut.
Ketegangan meningkat ketika perwakilan PT Bogorindo, Khalid, mencoba menjelaskan soal legalitas lahan melalui sambungan telepon (HP). Warga menolak penjelasan itu dan meminta bukti fisik berupa dokumen resmi.
Situasi semakin memanas ketika perwakilan perusahaan juga Yatman, menanggapi pertanyaan dari salah satu petani, dan warga Dodi yang mengatakan akar masalah ini merupakan dari bapak yatman, bapak yatman dengan nada tinggi dan menepuk meja dan menjelaskan dan menyebut nama seseorang yang telah meninggal dunia memicu emosi warga dan menyebabkan kericuhan di ruang musyawarah.
Aparat desa dan BPBD yang hadir berusaha menenangkan keadaan hingga akhirnya musyawarah terpaksa dihentikan sementara sampai kondusif dan dilanjutkan balik
Kepala Desa Tenjo Jaya, Jamaludin Aziz, menegaskan bahwa pihak desa hanya berperan sebagai fasilitator untuk mediasi antara warga dan perusahaan.
“Ini adalah tindak lanjut dari mediasi sebelumnya. Masyarakat menuntut agar PT Bogorindo menunjukkan legalitas dan menghentikan kegiatan di lapangan. Draft kesepakatan sedang disusun, dan perusahaan telah menyetujui untuk menghentikan aktivitas sementara,” jelas Jamaludin.
Perwakilan petani, Dodi, menambahkan bahwa kericuhan terjadi karena ucapan pihak perusahaan yang dianggap menyinggung keluarga warga. Namun, ia menegaskan bahwa tuntutan masyarakat sudah jelas: aktivitas PT Bogorindo dihentikan sampai legalitas terbukti.
Sementara itu, Pujianto, Humas PT Bogorindo, menyampaikan pihaknya akan berkoordinasi dengan manajemen pusat untuk menindaklanjuti kesepakatan tersebut.
“Kami siap mengganti lahan yang terdampak dan akan segera menegaskan legalitas kami setelah berkoordinasi dengan atasan,” ujarnya.
Musyawarah tersebut akhirnya menghasilkan kesepakatan penghentian sementara seluruh aktivitas PT Bogorindo di Desa Tenjo Jaya hingga pihak perusahaan mampu membuktikan dokumen kepemilikan yang sah dan memperoleh izin resmi dari dinas terkaitk
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT















