JABARINSIDE.COM | Cuaca panas yang terasa menyengat melanda wilayah Kabupaten Sukabumi dalam beberapa hari terakhir. Kondisi ini membuat banyak warga mengeluhkan suhu udara yang dirasakan jauh lebih panas dibanding biasanya.
Sejak pagi hingga siang hari, terik matahari terasa begitu kuat. Bahkan, sejumlah warga mengaku aktivitas di luar ruangan menjadi tidak nyaman karena udara terasa gerah dan menyilaukan.
“Sudah beberapa hari ini panasnya terasa sekali. Baru keluar sebentar saja sudah berkeringat,” ujar Asep salah seorang warga Sukabumi, Senin (16/03/2026).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Fenomena ini pun memunculkan berbagai pertanyaan di tengah masyarakat. Banyak warga penasaran, apa sebenarnya yang menyebabkan suhu udara di Sukabumi terasa lebih panas dari biasanya.
Berdasarkan informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), kondisi panas yang terjadi di sejumlah wilayah Jawa Barat, termasuk Sukabumi, dipengaruhi oleh minimnya tutupan awan di langit, sehingga sinar matahari dapat langsung menyinari permukaan bumi tanpa banyak penghalang.
Selain itu, saat ini Indonesia juga mulai memasuki masa peralihan musim atau pancaroba dari musim hujan menuju musim kemarau. Pada periode ini, intensitas hujan mulai berkurang sementara paparan sinar matahari meningkat sehingga suhu udara terasa lebih panas.
BMKG juga menyebutkan bahwa kelembapan udara yang cukup tinggi di wilayah pesisir dan dataran rendah dapat membuat suhu terasa lebih gerah bagi masyarakat.
Meski demikian, masyarakat diimbau untuk tetap menjaga kesehatan dengan memperbanyak konsumsi air putih, menghindari aktivitas berat di bawah terik matahari terutama pada siang hari, serta menggunakan pelindung seperti topi atau payung saat beraktivitas di luar ruangan.
Cuaca panas yang sudah dirasakan warga Sukabumi selama beberapa hari terakhir ini pun menjadi perhatian masyarakat. Banyak pihak berharap ada pemantauan lebih lanjut dari instansi terkait agar masyarakat mendapatkan informasi yang jelas mengenai kondisi cuaca yang sedang terjadi.
Apakah panas ekstrem ini hanya fenomena sementara akibat pancaroba, atau ada perubahan cuaca yang lebih besar ke depan? Warga pun masih menunggu penjelasan lebih lanjut dari pihak terkait.
Sumber: BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika).















