JABARINSIDE.COM | SUKABUMI – Kebakaran tumpukan limbah veneer di Kampung Pondok Bitung, RW 07, Desa Kertaraharja, Kecamatan Cikembar, Kabupaten Sukabumi, hingga Kamis sore (27/8/2026) masih menyisakan bara api.
Petugas pemadam kebakaran masih melakukan pemantauan dan penanganan di lokasi untuk mencegah api kembali membesar maupun merembet ke wilayah sekitar.
Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kabupaten Sukabumi, Budianto, mengatakan tebalnya tumpukan limbah menjadi salah satu kendala utama dalam proses pemadaman.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Menurutnya, air yang disemprotkan petugas hanya mampu membasahi bagian atas tumpukan, sementara bara api di bagian bawah masih sulit dijangkau.
“Di bawahnya masih bara. Itu harus diaduk sampai ke bawah, sementara kita tidak memiliki alat untuk mengangkat atau membongkar tumpukan itu,” ujar Budianto saat ditemui di lokasi.

Penanganan kebakaran tersebut melibatkan sejumlah unsur, tidak hanya dari Damkar Kabupaten Sukabumi. Bantuan juga datang dari Yonif 310, Yon Armed 13 Nanggala, Damkar Kota Sukabumi, SCG dan GSI.
Damkar Kabupaten Sukabumi sendiri mengerahkan empat unit kendaraan, masing-masing dua unit dari Cibadak, satu unit dari Cikembar dan satu unit dari Cisaat.
Sementara itu, dukungan pasokan air turut diberikan sejumlah perusahaan melalui kendaraan tangki untuk membantu proses pemadaman.
Meski api belum sepenuhnya padam, petugas memprioritaskan penyekatan untuk mencegah kobaran menjalar ke area lain, khususnya permukiman warga dan bangunan pabrik di sekitar lokasi.
“Kami sekarang hanya memantau dan memutus jalur api supaya api tidak menyebar meluas, baik ke permukiman ataupun ke pabrik-pabrik yang lain,” katanya.
Budianto menambahkan, petugas akan terus memantau sejumlah titik yang masih mengeluarkan bara. Personel diperkirakan tetap berada di lokasi hingga malam hari guna memastikan tidak terjadi perluasan kebakaran.
Penyebab Masih Diselidiki
Terkait penyebab kebakaran, hingga kini masih dilakukan penyelidikan. Budianto mengaku mendapat informasi awal bahwa api diduga berasal dari aktivitas pembakaran.
Namun, informasi tersebut belum dapat dipastikan kebenarannya.
“Saya sudah meminta pihak kecamatan untuk menyelidiki sumbernya, ini berasal dari mana,” ungkapnya.
Jika nantinya ditemukan adanya aktivitas pembakaran yang menyebabkan api merembet ke tumpukan limbah, Budianto menyerahkan proses penanganannya kepada pihak kecamatan dan kepolisian sesuai ketentuan yang berlaku.
Ia juga mengimbau masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan, khususnya di tengah kondisi musim kemarau.
Menurutnya, aktivitas pembakaran sampah maupun lahan harus dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi lingkungan agar tidak memicu kebakaran yang lebih besar.
“Lebih bijak memakai api, lebih bijak dalam hal pembuangan sampah. Kalau memang tidak mampu, jangan mencoba-coba membakar lahan. Lihat situasi dan kondisi,” tegasnya.
Budianto memperkirakan bara api pada tumpukan limbah masih dapat bertahan selama satu hingga dua hari apabila tidak turun hujan.
Karena itu, pemantauan dan penanganan di lokasi akan terus dilakukan hingga kondisi dinyatakan benar-benar aman.















