JABARINSIDE.COM | SUKABUMI – Krisis air bersih akibat musim kemarau yang melanda Desa Padabeunghar, Kecamatan Jampangtengah, Kabupaten Sukabumi, memaksa warga mencari berbagai cara untuk memenuhi kebutuhan air sehari-hari. Salah satunya dengan mengambil air dari bak penampungan yang bersumber dari mata air di seberang Sungai Cimandiri.
Salah seorang warga Kampung Lemburjati RT 08 RW 02, Saepudin (60), mengatakan mata air tersebut menjadi satu-satunya harapan masyarakat setelah sumur-sumur di rumah mengering akibat kemarau yang berkepanjangan.
”Kalau musim kemarau seperti sekarang, kami mengambil air dari sini untuk kebutuhan minum dan kebutuhan sehari-hari karena sumur di rumah sudah kering,” ujar Saepudin saat ditemui di lokasi, Selasa (28/7/2026).
Menurutnya, warga harus menempuh jarak sekitar 500 meter dari rumah menuju lokasi penampungan air. Meski harus berjalan kaki sambil membawa jeriken, mereka tetap memanfaatkan sumber air tersebut karena tidak memiliki pilihan lain.
”Jaraknya sekitar lima ratus meter dari rumah. Mau tidak mau kami mengambil air ke sini karena memang tidak ada sumber air lain,” katanya.
Saepudin mengungkapkan, sejumlah warga bahkan telah berupaya membuat sumur baru dengan kedalaman hingga sekitar 60 meter. Namun, upaya tersebut belum membuahkan hasil karena tidak ditemukan sumber air yang mencukupi.
”Saya juga sudah mencoba membuat beberapa sumur sampai sekitar enam puluh meter, tapi tetap tidak keluar air. Dulu saat musim hujan, kedalaman sekitar tiga meter saja sudah ada air,” tuturnya.
Ia menambahkan, keberadaan bak penampungan beserta saluran pipa menuju mata air sangat membantu masyarakat. Namun, jaringan pipanisasi yang tersedia masih terbatas sehingga belum mampu menjangkau seluruh permukiman warga.
Karena itu, ia berharap pemerintah dapat memberikan bantuan pembangunan jaringan pipanisasi agar air dari mata air tersebut dapat dialirkan langsung ke rumah-rumah warga.
”Kami berharap pemerintah peduli dengan kondisi masyarakat di Kampung Lemburjati. Yang paling dibutuhkan saat ini adalah bantuan pipanisasi atau bantuan lain agar air bersih bisa lebih mudah sampai ke rumah-rumah warga,” harapnya.
Selain berdampak terhadap kebutuhan rumah tangga, kekeringan juga mulai dirasakan para petani. Berkurangnya pasokan air menyebabkan lahan pertanian mengalami kesulitan pengairan sehingga dikhawatirkan akan memengaruhi hasil panen apabila musim kemarau terus berlanjut.
Saepudin berharap pemerintah segera mengambil langkah nyata agar masyarakat tidak lagi mengalami kesulitan memperoleh air bersih setiap musim kemarau.
”Semoga ada perhatian dan bantuan dari pemerintah sehingga warga tidak lagi kesulitan air bersih, baik untuk kebutuhan sehari-hari maupun untuk pertanian,” pungkasnya.















