JABARINSIDE.COM | Sukabumi – SMA Negeri 1 Cikembar, Kabupaten Sukabumi, melaksanakan kegiatan In House Training (IHT) yang berfokus pada penguatan program Gapura Pancawaluya 2026. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya sekolah dalam mengimplementasikan kebijakan strategis Dinas Pendidikan Jawa Barat untuk mendorong transformasi karakter peserta didik.
Gapura Pancawaluya sendiri merupakan instrumen penguatan pendidikan karakter yang berakar pada kearifan lokal budaya Sunda. Program ini bertujuan menciptakan ekosistem pendidikan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki integritas moral yang kuat.
Wakil Kepala Sekolah bidang kurikulum selaku ketua kegiatan, Anni Handayani, menyampaikan bahwa kegiatan IHT ini dilaksanakan selama dua hari, yakni pada 16 hingga 17 April 2026.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Kegiatan ini diikuti oleh seluruh guru dan tenaga kependidikan sebanyak 75 orang, serta melibatkan komite sekolah dan perwakilan siswa,” ujarnya.

Ia menjelaskan, kegiatan tersebut menghadirkan narasumber dari Dinas Pendidikan Provinsi Jawa BARAT yang telah ditunjuk secara resmi. Melalui pelatihan ini, seluruh warga sekolah diharapkan mampu mengimplementasikan nilai-nilai karakter Pancawaluya dalam setiap aktivitas.
Adapun nilai-nilai yang ditekankan dalam program ini meliputi lima pilar utama, yakni cager, bener, pinter, dan singer, yang diharapkan dapat tertanam dalam keseharian warga sekolah.
“Penekanannya pada implementasi lima pilar tersebut dalam aktivitas sekolah, mulai dari proses pembelajaran, pembiasaan positif, hingga kepedulian terhadap lingkungan, seperti menjaga kebersihan diri dan lingkungan sekolah,” jelasnya.
Lebih lanjut, Anni menuturkan bahwa pembiasaan tersebut diharapkan tidak hanya berhenti di lingkungan sekolah, tetapi juga terbawa hingga ke kehidupan siswa di rumah.
“Harapannya, ini menjadi kebiasaan yang muncul dari kesadaran diri, bukan karena disuruh,” tambahnya.
Ia juga menekankan pentingnya keterlibatan seluruh pihak, termasuk orang tua melalui komite sekolah, agar program ini dapat berjalan secara maksimal dan berkelanjutan.
“Jika hanya didukung sekolah tanpa peran orang tua, tentu tidak akan maksimal. Karena itu, kami melibatkan komite agar implementasinya juga berjalan di rumah masing-masing,” katanya.
Menurutnya, saat ini sekolah masih dalam tahap proses untuk menjadikan nilai-nilai tersebut sebagai budaya. Namun, kegiatan IHT ini diharapkan menjadi langkah awal dalam menumbuhkan kesadaran bersama.
“Mudah-mudahan apa yang diserap hari ini dapat diimplementasikan dan memberikan dampak positif, baik bagi siswa, komunitas sekolah, maupun ekosistem pendidikan secara keseluruhan,” pungkasnya.















