JABARINSIDE.COM | SUKABUMI — Produktivitas hasil panen padi pada Musim Tanam Pertama (MT1) di Desa Bojong, Kecamatan Cikembar, Kabupaten Sukabumi, mengalami peningkatan signifikan. Dari yang sebelumnya rata-rata 6 ton per hektare, kini naik menjadi 7 hingga 8 ton per hektare.
Peningkatan tersebut tidak terjadi secara kebetulan, melainkan hasil dari sinergi berbagai faktor teknis dan manajerial di lapangan, terutama ketersediaan air yang mendukung selama musim tanam pertama.
Ketua Kelompok Tani Temu Karya Desa Bojong, Fery Kurniawan, mengungkapkan rasa syukurnya atas capaian tersebut.
“Alhamdulillah, untuk hasil panen padi kemarin ada yang mencapai 8 ton per hektare, dengan varietas Inpari 32. Memang tidak merata, untuk wilayah hulu masih di kisaran 6 ton per hektare, tapi di hilir rata-rata bisa mencapai 7 ton per hektare,” ujarnya.
Ia menjelaskan, ketersediaan air yang cukup pada musim tanam pertama menjadi faktor utama meningkatnya hasil panen. Namun, kondisi berbeda diperkirakan terjadi pada musim tanam kedua.
“Untuk musim kedua, di sini biasanya hanya ditanami ubi jalar dan jagung hibrida karena keterbatasan air,” jelasnya.
Selain itu, kondisi cuaca yang tidak menentu juga menjadi tantangan tersendiri bagi petani. Intensitas hujan yang disertai suhu panas tinggi berpotensi memicu serangan penyakit tanaman.
“Curah hujan sekarang dibarengi panas yang tinggi, itu bisa memicu penyakit. Hama yang dominan di sini seperti blas dan hawar daun. Sementara hama lain seperti penggerek batang dan wereng relatif berkurang,” katanya.
Di sisi lain, persoalan irigasi masih menjadi kendala, khususnya bagi petani di wilayah hilir. Kerusakan saluran irigasi yang belum diperbaiki menyebabkan debit air tidak sampai ke lahan pertanian.
“Bagian hilir itu terkendala air karena irigasi masih bocor. Harusnya debit air bisa sampai ke sini, tapi banyak kebocoran. Akibatnya, petani di hilir tidak bisa lagi menanam padi,” ungkapnya.
Menjelang musim tanam kedua, petani di wilayah hilir terpaksa beralih ke tanaman palawija seperti ubi jalar dan jagung sebagai alternatif.
Meski demikian, peningkatan hasil panen pada musim tanam pertama tetap menjadi harapan dan motivasi bagi para petani untuk terus bertahan.
“Alhamdulillah kemarin karena air cukup, hasil panen meningkat. Biasanya 6 ton, sekarang rata-rata 7 ton, bahkan ada yang sampai 8 ton per hektare,” pungkasnya.
.















