JABARINSIDE.COM | SUKABUMI – Kelompok tani di Desa Padabeunghar, Kecamatan Jampangtengah, Kabupaten Sukabumi, mulai melaksanakan pembangunan Irigasi Perpipaan (IRPIP) melalui program Kementerian Pertanian RI yang bersumber dari Direktorat Jenderal Lahan dan Irigasi Pertanian.
Program yang dilaksanakan secara swakelola oleh Kelompok Tani Medal Wargi III.B tersebut memiliki anggaran sebesar Rp230 juta yang bersumber dari APBN Tahun Anggaran 2026. Pembangunan irigasi perpipaan ini ditujukan untuk memenuhi kebutuhan air bagi lahan pertanian seluas sekitar 50 hektare.
Salah seorang petani Kampung Panyindangan, Enang (59), menyampaikan apresiasi kepada pemerintah atas bantuan yang diberikan kepada para petani di Desa Padabeunghar.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT

”Kami mewakili para petani mengucapkan terima kasih kepada pemerintah, mulai dari pemerintah desa, kecamatan, kabupaten hingga pemerintah pusat yang telah memberikan bantuan pipanisasi untuk mendukung kebutuhan air pertanian,” ujarnya.
Menurut Enang, bantuan tersebut merupakan hasil usulan kelompok tani yang telah diajukan sejak beberapa waktu lalu dan baru dapat direalisasikan pada tahun ini.
Ia berharap program serupa kembali dilanjutkan sehingga jaringan irigasi di wilayah pertanian Desa Padabeunghar dapat semakin luas dan mampu memenuhi kebutuhan air para petani.

”Mudah-mudahan ke depan ada lagi bantuan seperti ini sehingga jaringan irigasi bisa ditambah dan manfaatnya dirasakan lebih banyak petani,” katanya.
Enang menjelaskan, pembangunan irigasi dilakukan secara swakelola dengan melibatkan anggota kelompok tani bersama masyarakat setempat. Selain petani, kegiatan tersebut juga mendapat dukungan dari pemerintah desa, kepala dusun, ketua RT, ketua RW, hingga Kepala Desa Padabeunghar.
”Pelaksanaannya dilakukan secara gotong royong oleh para petani bersama kelompok tani dan didukung pemerintah desa serta masyarakat,” tuturnya.
Sebelum adanya pembangunan irigasi perpipaan, para petani menghadapi berbagai kendala dalam memenuhi kebutuhan air, terutama saat musim kemarau. Bendung sederhana yang dibuat secara manual menggunakan bambu dan kayu kerap rusak saat debit Sungai Cimandiri meningkat pada musim hujan.
”Kalau musim hujan bendung yang dibuat secara manual sering terbawa arus banjir. Ketika musim kemarau, air juga sulit masuk ke saluran irigasi sehingga pengairan sawah tidak maksimal,” jelasnya.
Menurut Enang, jaringan irigasi tersebut nantinya diproyeksikan mampu mengairi sekitar 45 hektare lahan pertanian. Pada tahap awal, pemanfaatannya masih dilakukan secara bertahap menyesuaikan progres pembangunan jaringan.
Ia menambahkan, apabila pasokan air tersedia secara normal, petani di wilayah tersebut mampu melakukan panen padi hingga tiga kali dalam setahun. Namun dalam beberapa waktu terakhir, kekeringan menyebabkan banyak petani mengalami gagal panen.
”Saat ini banyak petani yang beralih menanam palawija seperti ubi karena kesulitan air. Banyak tanaman padi yang tidak berhasil karena saat mulai berbuah air sudah tidak ada sehingga tanaman mengering,” ungkapnya.
Dengan adanya pembangunan irigasi perpipaan ini, para petani berharap distribusi air ke lahan pertanian menjadi lebih lancar sehingga produktivitas pertanian dapat meningkat dan risiko gagal panen akibat kekeringan dapat diminimalka
”Kami berharap bantuan ini menjadi solusi bagi kebutuhan air pertanian. Ke depan kami juga berharap ada tambahan pembangunan jaringan irigasi serta perbaikan bendung agar pengairan sawah semakin optimal,” pungkasnya.















