JABARINSIDE.COM | KABUPATEN SUKABUMI – Musim kemarau yang melanda Kabupaten Sukabumi tidak menyurutkan tingginya permintaan industri terhadap ubi kayu Manggu MHAS asal Desa Sukamulya, Kecamatan Cikembar. Meski produksi mengalami penurunan akibat minimnya pasokan air, kenaikan harga jual membuat pendapatan petani tetap terjaga.
Saat ini, panen ubi kayu tengah berlangsung di lahan seluas sekitar 13 hektare dari total areal tanam mencapai 52 hektare. Proses panen diperkirakan masih akan berlangsung selama kurang lebih dua pekan ke depan.
Petani ubi kayu Manggu MHAS, Maryoto, mengatakan musim kemarau berdampak pada ukuran umbi yang lebih kecil sehingga produktivitas menurun. Namun kondisi tersebut diimbangi dengan meningkatnya harga jual di tingkat petani.
“Kalau musim kemarau hasil memang berkurang karena pengaruh air. Tetapi harga naik sekitar 15 persen, jadi pendapatan petani masih tetap terjaga,” ujar Maryoto saat ditemui di lokasi panen, Selasa (4/8/2026).
Ia menjelaskan, harga ubi kayu yang biasanya berada di kisaran Rp21.000 hingga Rp22.000 per satuan penjualan kini meningkat menjadi sekitar Rp28.000. Kenaikan tersebut dipicu terbatasnya pasokan dari petani, sementara kebutuhan bahan baku dari industri pengolahan tetap tinggi.
Menurut Maryoto, sedikitnya dua pabrik telah siap menyerap hasil panen ubi kayu Manggu MHAS dari wilayah Cikembar. Meski demikian, hasil panen tidak seluruhnya dipasarkan langsung ke pabrik.
“Pabrik sudah menunggu hasil panen. Tapi kami juga tetap melibatkan tengkulak supaya jalur distribusi tetap berjalan dan semua pihak bisa saling membantu,” katanya.
Ia menuturkan, kondisi seperti ini merupakan siklus yang hampir selalu terjadi setiap tahun. Saat musim kemarau, produksi menurun tetapi harga cenderung meningkat. Sebaliknya, ketika musim hujan hasil panen melimpah, harga jual biasanya mengalami penurunan.
“Sudah biasa. Saat kemarau tonase berkurang tetapi harga tinggi. Kalau musim hujan hasil banyak, harga biasanya turun,” jelasnya.
Usai panen, lahan tidak langsung kembali ditanami ubi kayu. Para petani memilih menunggu datangnya musim hujan sambil memanfaatkan lahan dengan sistem tumpang sari menggunakan tanaman jagung. Langkah tersebut dilakukan untuk menekan biaya produksi sekaligus menjaga produktivitas lahan.
Meski menghadapi tantangan perubahan cuaca, Maryoto optimistis budidaya ubi kayu Manggu MHAS masih memiliki prospek yang menjanjikan. Tingginya permintaan dari sektor industri dinilai menjadi peluang bagi petani untuk terus mengembangkan komoditas tersebut sebagai salah satu sumber pendapatan utama di Kecamatan Cikembar.
Dengan permintaan pasar yang tetap tinggi dan harga jual yang menguntungkan, ubi kayu Manggu MHAS masih menjadi komoditas unggulan yang memberikan nilai ekonomi bagi petani, meskipun harus menghadapi tantangan musim kemarau.