JABARINSIDE.COM | SUKABUMI – Musim kemarau panjang tahun ini mulai memberikan dampak serius terhadap ketersediaan air bersih dan sektor pertanian di Desa Sukamaju, Kecamatan Cikembar, Kabupaten Sukabumi.
Kepala Desa Sukamaju, Diran Bachari, mengatakan kekeringan bukan persoalan baru bagi wilayahnya. Namun, kondisi tahun ini dinilai lebih berat karena musim kemarau berlangsung lebih panjang dibandingkan tahun sebelumnya.
Hal tersebut disampaikan Diran Bachari kepada awak media di Kantor Desa Sukamaju, Kecamatan Cikembar, Kamis (3/9/2026).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Untuk kekeringan di Desa Sukamaju memang sudah langganan rutin tahunan. Apalagi tahun sekarang kemaraunya lebih lama dari tahun kemarin. Tahun kemarin sekitar satu bulan masih bisa teratasi, kalau sekarang sudah sekitar dua bulan,” ujar Diran.
Menurutnya, meskipun hujan mulai turun di sejumlah wilayah, dampak kekeringan masih dirasakan masyarakat, terutama dalam memenuhi kebutuhan air bersih. Bantuan distribusi air menggunakan pompa juga belum sepenuhnya mampu menjangkau seluruh wilayah desa.
“Banyak masyarakat yang harus dibantu, baik untuk sanitasi maupun air bersih. Memang ada pompa, tetapi kadang untuk wilayah yang di ujung tidak ter-cover,” katanya.
Selain kebutuhan rumah tangga, kekeringan juga berdampak terhadap lahan pertanian. Diran menyebut sebagian lahan pertanian masyarakat saat ini tidak dapat ditanami karena keterbatasan sumber air.

Menurutnya, sejumlah lahan yang masih mendapatkan pasokan dari jaringan irigasi masih bisa diusahakan. Namun, debit air yang kecil membuat distribusi ke wilayah hilir menjadi persoalan.
“Kalau sebagian ada yang dari irigasi, airnya juga berebut. Air irigasi itu harus dikawal terus. Bahkan kalau mau sampai ke wilayah hilir, kadang air harus dijemput dari sore sampai malam,” ungkapnya.
Kondisi tersebut membuat sejumlah wilayah seperti Cihonje dan Cikamaju mengalami kesulitan mendapatkan pasokan air. Bahkan, beberapa aliran sungai kecil yang selama ini menjadi sumber air masyarakat turut mengalami kekeringan.
“Yang paling terdampak itu Dusun Cihonje dan Dusun Cikamaju. Apalagi sumber air dari sungai-sungai kecil sudah kering. Dari suplai Cikembar juga saat ini sudah kering,” jelas Diran.
Ia menambahkan, kondisi debit air yang tidak mencukupi juga berpotensi menyebabkan gagal panen bagi petani yang mengandalkan sistem irigasi.
Diran juga menyoroti kondisi infrastruktur pada jaringan irigasi yang menurutnya turut memengaruhi distribusi air ke wilayah pertanian.
Ia menjelaskan, terdapat bagian bangunan atau jembatan pada jaringan irigasi yang dinilai perlu ditinggikan agar kapasitas tampungan dan aliran air menuju wilayah hilir dapat lebih maksimal.
“Seharusnya itu ditinggikan supaya debit akhirnya bisa lebih banyak masuk ke sini. Sekarang airnya malah limpas karena tidak tertampung, sehingga yang masuk ke wilayah hilir menjadi kecil,” tuturnya.
Menurutnya, pengelolaan irigasi bersama Mitra Cai sebenarnya masih dapat dioptimalkan agar distribusi air bisa menjangkau wilayah seperti Cihonje dan Cikamaju.
Namun, kondisi debit air yang minim serta persoalan infrastruktur membuat upaya tersebut belum maksimal.
Akibat keterbatasan air, sebagian besar petani memilih tidak melakukan penanaman pada musim kemarau tahun ini.
“Kalau masih bisa diusahakan ada air, meskipun menggunakan pompa, ada juga yang tetap menanam seperti mentimun dan sebagainya. Tetapi kebanyakan yang lahannya tidak memiliki ketersediaan air memilih tidak menanam,” kata Diran.
Saat ini, sebagian warga yang masih beraktivitas di lahan pertanian hanya melakukan persiapan dan pemeliharaan lahan, seperti penyiangan.
“Kalau untuk penanaman sama sekali tidak ada, karena airnya tidak tersedia. Apalagi kemarau sekarang sudah panjang. Kalau tidak salah mulai sekitar 20 Mei sudah terasa kemaraunya di sini,” ujarnya.
Menghadapi kondisi tersebut, Pemerintah Desa Sukamaju berharap adanya intervensi dari pemerintah untuk membantu masyarakat, khususnya dalam penyediaan sarana pengairan pertanian.
Diran berharap pemerintah dapat memberikan bantuan pompa air bertenaga sury















