JABARINSIDE.COM | SUKABUMI – Pemerintah Kabupaten Sukabumi terus mematangkan persiapan Festival dan Pameran Bonsai Sukabumi 2026. Gelaran seni tanaman kerdil berskala nasional tersebut dipastikan menjadi salah satu agenda utama dalam rangkaian Hari Jadi Kabupaten Sukabumi (HJKS) 2026.
Festival yang mengusung tema “Merdeka dalam Berkarya, Ngahiji Wujudkan Sukabumi Mubarakah sebagai Poros Bonsai Indonesia” itu dijadwalkan dibuka pada 19 September 2026 di Alun-alun Bojonglopang, Kecamatan Jampangtengah.
Berbagai persiapan pun terus dikebut. Pemerintah Kabupaten Sukabumi menggelar rapat koordinasi di Aula Kantor Kecamatan Jampangtengah untuk memastikan seluruh rangkaian kegiatan berjalan maksimal.
Rapat tersebut dihadiri Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Sukabumi, jajaran Pemerintah Kecamatan Jampangtengah selaku tuan rumah, pengurus Rumah Bonsai Indonesia (RUBI) Cabang Sukabumi, serta sejumlah dinas terkait.
Dukungan terhadap kegiatan ini juga datang dari Bank BJB yang bertindak sebagai sponsor utama.
Pebonsai Mulai Bersiap, Penerimaan Pohon Dibuka 14 September
Bagi para pencinta bonsai dari berbagai daerah yang ingin ambil bagian dalam kompetisi, panitia telah membuka pendaftaran peserta.
Penyerahan pohon bonsai akan dimulai pada Senin, 14 September 2026, dan berlangsung hingga 17 September 2026 di lokasi utama festival, Alun-alun Bojonglopang.
Panitia mengimbau para peserta segera melakukan pendaftaran dan mempersiapkan pohon terbaik mereka untuk mengikuti ajang berskala nasional tersebut.
Camat Jampangtengah, Ichsan Muchlis Sani, menyambut positif dipilihnya wilayahnya sebagai lokasi festival.
Menurutnya, pemerintah kecamatan bersama masyarakat siap memberikan dukungan penuh agar kegiatan tersebut memberikan dampak positif bagi daerah.
«“Kami berharap manfaat ekonomi dan kreativitas dari festival ini akan banyak diterima langsung oleh masyarakat Jampangtengah, baik dari sektor UMKM, penginapan, hingga pengrajin lokal,” ujar Ichsan.»
Dongkrak Pariwisata dan Ekonomi Masyarakat
Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Sukabumi, H. Ali Iskandar, mengatakan Festival dan Pameran Bonsai Sukabumi 2026 bukan sekadar ajang perlombaan tanaman hias.
Menurutnya, kehadiran peserta dari berbagai daerah berpotensi memberikan dampak berantai terhadap sektor pariwisata dan perekonomian masyarakat.
«“Kami mengajak semua pihak turut serta, baik dari pemerintahan maupun swasta bisa mendukung agar kegiatan ini sukses. Kehadiran para pebonsai dari berbagai daerah tidak hanya mendongkrak sektor pariwisata, tetapi juga memberikan multiplier effect yang luar biasa bagi perputaran ekonomi dan agrobisnis masyarakat Sukabumi,” kata Ali.»
Ketua RUBI Cabang Sukabumi, Wahyu Kurniawan, menjelaskan festival kali ini memiliki dua pilar utama, yakni lomba dan pameran.
Keduanya diharapkan menjadi ruang bagi para pebonsai untuk berkompetisi secara sehat sekaligus memperkenalkan bonsai sebagai karya seni yang memiliki nilai ekonomi.
Ini Rundown Festival Bonsai Sukabumi 2026
Panitia telah menetapkan rangkaian kegiatan Festival dan Pameran Bonsai Sukabumi 2026 sebagai berikut:
· 14–17 September 2026: Penyerahan dan penerimaan pohon bonsai peserta di Alun-alun Bojonglopang. Penerimaan terakhir ditutup 17 September.
· 18 September 2026: Proses penilaian dan penjurian oleh tim juri gabungan nasional dan lokal.
· 19 September 2026: Pameran umum, pengumuman pemenang, serta penyerahan hadiah.
Bupati Sukabumi Dijadwalkan Hadir
Puncak festival pada 19 September 2026 diprediksi menjadi salah satu momentum menarik dalam rangkaian HJKS 2026.
Pasalnya, Festival Bonsai tersebut menjadi salah satu titik pemberhentian dalam agenda touring dinas “Ngalongok Dulur Salembur”.
Bupati Sukabumi, H. Asep Japar, dijadwalkan hadir langsung untuk membuka kegiatan melalui prosesi gunting pita. Bupati akan didampingi Presiden RUBI Pusat, Prof. Zudan Arif Fakrulloh.
Keduanya juga dijadwalkan menyerahkan hadiah kepada para pemenang lomba. Prosesi kemudian dilanjutkan dengan tradisi penancapan bendera kemenangan di atas media tanam bonsai peraih juara utama.
Tak hanya itu, momentum tersebut juga akan diramaikan dengan peluncuran buku “Bonsai: Karya Seni dan Investasi” karya Achmad Zazuli.
Buku tersebut mengulas bonsai tidak hanya dari sisi estetika, tetapi juga potensi nilai ekonomi dan investasi yang dapat dikembangkan melalui budidaya tanaman tersebut.
“Ngalongok Dulur Salembur”, Dorong Potensi Desa
Dipilihnya Alun-alun Bojonglopang sebagai lokasi festival dinilai sejalan dengan tema besar HJKS 2026, yakni “Ngalongok Dulur Salembur: Ngaboseh sa-Jalur, Ngaraksa Lembur.”
Secara harfiah, “Ngalongok dulur salembur” bermakna mengunjungi kerabat serumpun di pedesaan.
Konsep tersebut tidak sekadar menghadirkan kegiatan touring, tetapi juga mendorong para peserta yang terdiri dari komunitas, Forkopimda, dan masyarakat luas untuk melihat langsung berbagai potensi serta perkembangan pembangunan di wilayah Kabupaten Sukabumi.
Melalui Festival dan Pameran Bonsai Sukabumi 2026, semangat tersebut diwujudkan dengan mengangkat potensi lokal di bidang pariwisata, agrobisnis, UMKM, dan industri kreatif.
Dengan demikian, Bojonglopang bukan hanya menjadi lokasi penyelenggaraan festival, tetapi juga diharapkan menjadi salah satu etalase potensi ekonomi kreatif Kabupaten Sukabumi.
Festival Bonsai Sukabumi 2026 pun diharapkan mampu menjadi momentum untuk memperkuat posisi Sukabumi sebagai salah satu poros bonsai di Indonesia, sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat di wilayah selatan Kabupaten Sukabumi.















