JABARINSIDE.COM | SUKABUMI – Kementerian Pertanian Republik Indonesia (Kementan RI) melalui tim Pengawas Benih Tanaman (PBT) melakukan kunjungan lapangan ke sentra budidaya ubi kayu di Desa Sukamulya, Kecamatan Cikembar, Kabupaten Sukabumi, Rabu (8/7/2026). Kegiatan ini dilakukan untuk memantau perkembangan varietas unggul Manggu MHAS sekaligus mendorong petani menjadi penangkar benih bersertifikat.
Kunjungan tersebut didampingi Kepala UPTD Pertanian Wilayah II Cibadak, petugas Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Cikembar, para petani, serta pengurus kelompok tani setempat.

Pengawas Benih Tanaman Madya Kementerian Pertanian, Purwancaturita Maryani, mengatakan pemerintah pusat ingin memastikan pengembangan varietas Manggu MHAS yang resmi dilepas pada 2024 sebagai varietas unggul nasional terus berjalan dengan baik dan memberikan manfaat yang lebih luas bagi petani.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Kami hadir dalam rangka memantau pengembangan varietas ubi kayu Manggu MHAS yang sudah dilepas pemerintah sebagai varietas unggul. Harapan kami, varietas ini dapat terus dikembangkan oleh para produsen benih sehingga manfaatnya semakin luas bagi petani,” ujar Purwancaturita kepada Jabarinside.com.

Berdasarkan hasil diskusi dengan petani di Desa Sukamulya, salah satunya Maryoto, pengembangan ubi kayu Manggu MHAS di wilayah tersebut telah berlangsung cukup lama. Maryoto bahkan telah membudidayakan varietas tersebut di lahan seluas sekitar 70 hektare.
Hasil panennya selama ini menjadi salah satu pemasok bahan baku bagi industri pengolahan keripik di Kabupaten Sukabumi.
“Ini luar biasa. Penanamannya sudah mencapai hampir 70 hektare dan hasilnya menjadi suplai bagi pabrik pengolahan keripik,” katanya.

Meski memiliki prospek yang menjanjikan, Purwancaturita mengakui masih ada kendala yang dihadapi petani, yakni serangan jamur pada batang ubi kayu. Berdasarkan informasi dari petani, gangguan tersebut diduga berkaitan dengan penggunaan pupuk, meski hingga kini penyebab pastinya masih memerlukan kajian lebih lanjut.
“Keluhan petani sebenarnya tidak banyak. Yang menjadi perhatian adalah adanya serangan jamur pada batang ubi kayu. Sampai saat ini memang belum ada obat yang benar-benar dapat mengendalikan penyakit tersebut,” jelasnya.
Selain meningkatkan produksi, Kementerian Pertanian berharap varietas Manggu MHAS tidak hanya dimanfaatkan sebagai komoditas konsumsi, tetapi juga dikembangkan sebagai benih sumber. Dengan demikian, petani lokal dapat menjadi penangkar benih yang menghasilkan benih bersertifikat dan berlabel.
“Kami berharap selain menghasilkan ubi konsumsi, varietas ini juga bisa menjadi benih sumber sehingga nantinya dapat diproduksi sebagai benih bersertifikat,” ungkapnya.
Untuk memperluas pengembangan varietas unggul tersebut, pemerintah akan terus melakukan sosialisasi mulai dari tingkat kabupaten, provinsi hingga pemerintah pusat. Menurut Purwancaturita, masih banyak petani yang belum mengenal potensi varietas lokal unggulan yang dimiliki Sukabumi.
Ia menyebut selain Manggu MHAS, Sukabumi juga memiliki sejumlah varietas lokal yang potensial, salah satunya Hawara atau Hawara Bumi, yang saat ini masih dalam proses pendaftaran dan diharapkan ke depan dapat dilepas sebagai varietas unggul nasional.
“Potensi varietas lokal ubi kayu di Sukabumi sebenarnya cukup banyak. Kami berharap ke depan tidak hanya Manggu MHAS, tetapi varietas lokal lainnya juga bisa dilepas menjadi varietas unggul nasional,” ujarnya.
Dari sisi teknis budidaya, Purwancaturita menjelaskan bahwa varietas Manggu MHAS lebih cocok ditanam pada lahan bertekstur berpasir seperti di wilayah Desa Sukamulya. Menurutnya, kondisi tersebut lebih ideal dibandingkan tanah berlempung karena mampu mendukung pertumbuhan dan perkembangan umbi secara optimal.
“Untuk varietas ini justru lebih menghendaki tanah yang berpasir. Dibanding tanah berlempung, kondisi seperti di wilayah ini lebih sesuai untuk pertumbuhan ubi kayu,” pungkasnya.















